Asal Mula Kue Keranjang

Yunanda Ferlisa

Asal Mula Kue Keranjang
Oleh Yunanda Ferlisa
Politeknik Negeri Jakarta

Perayaan Imlek atau tahun baru Cina tinggal menghitung hari. Tahun 2014 ini, perayaan Imlek jatuh pada tanggal 31 Januari. Perayaan yang identik dengan warna merah ini tidak lengkap jika tidak dihidangkan kue populer yang khas dengan perayaan tersebut, yaitu kue keranjang.
Kue keranjang atau di sebut juga Nian Gao yang dalam Hokkian ini diambil dariwadah yang cetaknya berbentuk keranjang. Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula serta memiliki tekstur kenyal dan lengket ini merupakan salah satu kue khas atau wajib dalam perayaan tahun baru Imlek.

Konon katanya, dulu kue ini dipercaya untuk ditunjuk sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku(Cau Kun Kong) agar membawa laporan kepada Raja Surga(Giok Hong Siang Te). Untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat Dewa Tungku tidak murka. Agar nantinya Dewa Tungku menyampaikan hal-hal yang baik dari rakyat sebagai yang diawasinya, akhirnya warga pun mencari bentuk dan sajian yang manis, yaitu kue yang disajikan dalam bentuk keranjang.

Dalam pembuatan kue keranjang yang di sajikan untuk Dewa Tungku harus ditentukan juga bentuknya yakni harus bulat. Artinya, keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat berkumpul minimal satu tahun sekali, serta menjadi keluarga yang bersatu, rukun dan bertekad bulat dalam menghadapi tahun yang baru. Bentuknya yang makin ke atas makin mengecil juga mempunyai arti penignkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran dalam keluarga tersebut.
Pada zaman dahulu, banyak atau tingginya kue keranjang atau yang biasa kita sebut dodol Cina ini menandakan kemakmuran dalam keluarga itu sendiri. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan mangkok bewarna merah di bagian atasnya sebagai simbol kehidupan manis yang kian melonjak dan mekar layaknya kue mangkok. Tradisi ini pun dibawa terus secara turun menurun hingga saat ini.

Bagikan ke:

Berikan penilaianmu tentang artikel dan tips di atas

Login untuk memberi komentar